Pelajaran Dari Surabaya

40 menit menjelang terbit matahari, setelah semua kegiatan rutin selesai kujalani, aku menulis di blog mas Alam.

Tadinya aku tidak ada waktu untuk bercengkerama dengan Surabaya, karena jadwal yang begitu padat, tapi ketika keputusan lain muncul, maka aku tiba-tiba punya banyak waktu untuk bercengkerama dengan Surabaya.

Kunjunganku ke Surabaya yang harusnya sudah berakhir Minggu pagi, ternyata diundur sampai Senin siang. Tidak bisa tidak, langsung dilakukan penjadwalan ulang. Urusan Suramadu sudah selesai, maka siap-siaplah untuk ngurusi pekerjaan yang lain.



Pemasangan spanduk toko CImaRT [dilaksanakan berbarengan dengan liputan Radar Bekasi] terpaksa hanya bisa dihadiri via FisBuk dan imil. Hasilnya langsung tak muat di blog CiMarT. Sayang juga tidak bisa melihat pak Dirut diwawancarai oleh Radar Bekasi, tapi gak apa-apa juga, aku juga kan sudah diwawancarai sebelumnya.

Pembuatan undangan menghadiri acara pemilu 2009 terpaksa juga ditinggalkan dan tidak bisa dihadiri via FB ataupun media komunikasi lainnya. Kasihan juga teman-teman KPPS Cikarang Baru, pasti mereka mengambil alih jatah pekerjaanku. Gak papa deh, asal jangan ngambil alih upahnya [ha..ha..ha...]

Yang paling bikin sedih adalah tidak bisa menemani anakku [Lita] upload file, padahal udah janji "berat" tuh. Alhamdulillah, saat kutelepon, dia tidak kecewa dengan batalnya acara itu.

Akupun akhirnya harus menyusun jadwal pengganti acara-acara yang batal itu. Yang paling urgent justru memanfaatkan jadwal untuk bertemu dengan para blogger Surabaya. Sayang aku ternyata tidak punya banyak kontak [maksudnya nomor hape] teman-teman di SUrabaya.

Beberapa yang kuhubungi ternyata sudah punya jadwal ketat, atau malah memberi alamat yang tidak rinci [hanya nama jalan tanpa nomor], karena mungkin mewaspadaiku sebagai pengganggu, jika aku datang ke rumahnya [he..he..he.. nggak lah yauw..].

Mas Alam coba kupancing dengan tulisan di FBnya, tapi kayaknya gak sempat mbaca atau  mas Alam sedang disekap ibunya di suatu ruangan tanpa internet, sehingga tidak punya kesempatan untuk mbalas tulisanku.

Hari Minggu, akhirnya aku meluncur mencari jaket kulit di Tanggul Angin. Ini acara dadakan, karena bulan depan mau touring dan jaket kulitku sudah dipergunakan oleh orang yang lebih berhak [maksudnya sudah dikembalikan pada yang punya, begitu?], maka mumpung ada waktu pergi dulu ke Tanggul Angin.

Tak terasa perjalanan sampai di tanggul lapindo. Ternyata penderitaan teman-teman di lapindo sudah dijadikan obyek wisata. Biaya Parkir 5 ribu dan ongkos naik tanggul, untuk lihat asap keluarnya lumpur, 3 ribu. Ongkos ditunjukkin jalan menghindari kemacetan Porong 20 ribu. Jadi banyak hal yang bisa dikomersiilkan di Porong ini. Kemacetan yang rutin tiap hari membuat kondisi ini terjadi.



Puas melihat wajah asap lumpur Lapindo, perjalanan dilanjutkan ke Tanggul Angin dan mampir sebentar ke mess proyek Waskita di Perumahan Permata, abis itu meluncur langsung ke Sidoarjo.

Iseng-iseng ngubungi kawan lama yang suaminya pergi ke LN. Eh, ternyata suaminya sudah pulang, wah cocok nih. Akupun akhirnya bisa berkenalan dengan Pasutri yang kompak abiz [komentar anaknya sih gokil abiz].



He..he..he.. anaknya demen FB dan ortunya gak begitu demen, jadinya selama ini komunikasi terjalin antara aku dan anak kawanku itu.

3o tahun lebih gak ketemuan, ternyata kami masih merasa sama-sama muda. Obrolan masih cekakaan kayak SMA dulu. Oalah bapak dan ibu ini, umur sudah lima puluh tahun masih sok muda.

Malam hari baru terasa capek. Abis makan malam langsung siap-siap tidur, tapi nyempetin mbalas imil atau pesan di FB dulu ya. Plurk ngadat berat, jadi ditinggalin dulu, digantiin pakai twitter aja deh.

Pelajaran apa yang kudapat hari ini ya :

1. Kota Surabaya masih enak ditinggali, bahkan lebih bersih dibanding saat aku masih disini.
2. Perlu punya kontak, nomor hape, teman-teman di Surabaya [please teman-temanku kirim no hape ke eko.eshape@gmail.com, biar kapan-kapan bisa kumpul-kumpul di surabaya, entah kapan]
3. Dimana ada kemauan disitu ada bisnis [bukan tak peduli dengan korban lapindo, tapi mereka juga butuh lapangan pekerjaan yang belum bsia disediakan dengan baik oleh pemerintah].
4. Toko Cimart perlu terus bebenah, sehingga dapat menampung pengusaha maupun calon pengusaha di Cikarang untuk mengantisipasi krisis moneter yang belum terlihat berakhir.
5. Kenangan itu, seburuk apapun, selalu indah ketika diceritakan kembali, dan waktu 30 tahun itu sebenarnya tidak lama [jadi bekal apa yang sudah kamu siapkan untuk menghadap padaNya?]
6. Tambahin sendiri ya, masih ada enggak saran atau pelajaran untuk hari ini?

Silahkan kasih komentar di bawah.

Nikmat Tuhan yang mana lagi yang kamu dustakan?

Mulai sekarang, AlamPintar akan update tiap EMPAT HARI sekali. Jika Anda terlalu sibuk untuk mampir, setidaknya pastikan untuk SELALU BACA artikel keren kami via email. Klik di sini untuk Langganan via E-mail!

Anda diperkenankan MENYALIN tulisan di AlamPintar.org selama menyebutkan SUMBER dan mencantumkan LINK menuju blog ini. Kerugian yang disebabkan karena anda secara salah mengikuti apa yang saya tulis di sini di luar tanggung jawab saya sebagai penulis.