Belajar dengan Kedua Belah Otak (bagian 2)

Okay, dari uraian sebelumnya, ada dua hal yang harus kita penuhi untuk bisa belajar dengan keseluruhan otak kita. Yaitu, merasa fun dan adanya sesuatu yang bisa mengisi otak kanan kita, ketika kita belajar dan memasukkan informasi secara aktif ke dalam otak kita.

Mari kita telusuri bersama lebih lanjut lagi. Huheuheueu.......

Pernahkah kita mencoba untuk berkonsentrasi dalam belajar, tapi seberapa keraspun anda mencoba untuk konsentrasi, pikiran kita tetap melayang-layang ke mana-mana. Ini terjadi, karena ketika kita belajar, otak kiri kita aktif, namun otak kanan menganggur. Tahu akibatnya? Otak kanan kita mencari 'pekerjaan'. Itu sebabnya kita melayang kemana-mana pikirannya. Mengerti?

Jadi, kita harus kondisikan agar kedua otak ini aktif secara bersama-sama. Dengan apa? Dengan musik tentunya. Tapi, musik yang bagaimana?

Syarat untuk musik yang bisa kita gunakan sebagai teman belajar haruslah
  1. Tidak Mengandung Lirik. Musik dengan lirik, akan mengacaukan informasi yang masuk ke otak kita. Informasi yang kita terima, akan bercampur dengan lirik lagu, sehingga terjadi lebih sulit untuk diingat. Hal ini, berlaku juga untuk lagu berlirik, yang diinstrumenkan. Meski tinggal nadanya saja, tapi pikiran kita akan menyanyikan liriknya. Jadi, lagu berlirik, BUKAN UNTUK BELAJAR!
  2. Lagu Harus Bersifat Netral. Jika lagu bersifat sedih, bersifat mellow, walah... jangan harap bisa belajar. Lagu itu BERBAHAYA. Ia memengaruhi emosi kita dengan tempo bpm (bit per menit)-nya. Lagu memengaruhi detak jantung, dan terkadang, merangsang otak untuk mengeluarkan hormon-hormon tertentu. Jika lagu sedih, kita bisa ikut sedih dan jika semangat kita bisa ikutan semangat.
  3. Audio Player Harus Bagus. Apalah gunanya jika lagunya bagus, merangsang otak untuk belajar, tapi sound system-nya jelek. Malah merusak konsentrasi saja! Jadi, mulai dari sekarang gunakan audio player dengan kualitas baik. Ingat, baik tak harus mahal.
Nah, dari syarat di atas, musik paling cocok untuk menemani kita belajar adalah:
  1. Musik Baroque. Musik ini tak berlirik dan sifatnya netral. Musik ini membuat otak kita rileks. Ini musik yang cocok untuk belajar. Penelitian membuktikan, musik Baroque mengaktifkan otak kanan, hampir sama dengan aktifnya otak kiri ketika kita belajar. Jadi, ini pilihan tertepat.
  2. Musik Mozart. Musik ini tak kalah dengan musik baroque. Penjelasannya, sedikit banyak seperti penjelasan mengenai musik baroque di atas, lah.... (malas ngetik mode on)
Tapi, tak hanya itu yang perlu kita perhatikan. Kita harus bisa membedakan musik Baroque dan tempat meletakkannya di tempat yang tepat. Musik Baroque sendiri dibagi menjadi 2.
  1. Quick Baroque (antara 100-140 bpm). Baik untuk tipe diskusi, brainstorming, dan untuk memunculkan ide-ide kreatif. Dengan bpm-nya yang tinggi, hal ini membuat jantung berdetak cepat, menjadikan kita semangat dan bertenaga!
  2. Slow Baroque (antara 55-70 bpm). Ini cocok jika kita ingin memasukkan informasi. Dengan tipe bpm rendah, musik ini melambatkan detak jantung, dan merilekskan diri kita. Cocok untuk belajar sendiri di dalam kamar, apalagi menjelang ujian seperti ini. Huehuehue....
Musik untuk belajar yang baik, harus mampu mengubah gelombang otak kita dari beta (aktif) menjadi alpha (sensai ketika mau tidur) dan sebaliknya. Memori tersimpan ke pikiran bawah sadar maupun ke memori jangka panjang ketika kita tidur. Nah, pengalihan gelombang dari beta ke alpha, alpha ke beta, akan mempermudah kita untuk mengingat informasi. Ini alasan kenapa saya menyarankan musik Baroque, karena IA MEMENUHI SYARAT INI!

Sebenarnya, bahasan mengenai musik untuk metode pembelajaran sangat banyak. Bisa tekor aku kalo harus mengetikkan semua yang ada di otakku. Untuk sementara, ini aja deh.

Oh iya, musik, selain membantu kita untuk mengefisienkan proses dan waktu belajar, jga bisa kita gunakan sebagai jangkar ketika kita ingin mengingat informasi yang sulit diingat. Misal, kita belajar kimia dengan lagu 'Clarinet Quintent in A'-nya Wolfgang Amadeus Mozart. Suatu ketika, kita lupa kimia kita. Tenang saja, putar kembali lagunya, dan rasakan ingatan anda mengenai kimia yang juga terputar ulang. Huehuehue.....

Hal yang tak kalah penting dalam proses belajar adalah, kita harus mampu menyambungkan informasi baru yang kita pelajari dengan informasi sebelumnya. Otak bekerja dengan membuat kaitan. Jadi, kreatiflah! Kaitkan informasi baru dengan informasi lama. Hal ini juga membuat informasi baru lebih awet berada di otak.

Mari kita simpulkan, apa yang telah kita pelajari. Intinya, GUNAKAN MUSIK SEBAGAI BAGIAN PROSES PEMBELAJARAN! Mengenai musiknya, menyusul atau anda cari sendiri di Google.

P.S: Postingan ini, permintaan dari seseorang dan saya tak punya cukup waktu untuk menuliskan segala yang kutahu untukmu. Huehuehue.... Jadi, yang penting-penting saja yang kutulis.

P.P.S: Tulisan kupersembahkan untuk seluruh siswa di Indonesia yang membutuhkan. Selamat belajar!

Dan, bagi siapapun yang dengan sengaja meng-copas hal yang telah saya tulis dengan mudah-payah ini, akan saya buat menyesal! Saya mau berbagi, tapi tak mau dirampok. Jadi, jika ingin menyalin hal ini, sertakan link ke postingan ini (ingat, postingan ini, bukan homepage!). Kemudian, sertakan kalimat seperti ini, "Tulisan di atas, bukan dari saya sendiri, lho... tapi dari Syamsul Alam." Huehuehue.... Tapi, jika ingin mengambil tulisan ini sebgai bahan referensi, silahkan.... Sekali lagi. Saya cinta berbagi ilmu, tapi tak ingin di rampok!

Mari menjadi kreatif dan pintar dengan tidak mencuri pikiran orang lain dan mengklaimnya sebagai milik sendiri. Mari menjadi manusia yang sebaik saya.

Referensi tulisan,
  • Genius Learning Strategy karya Adi W. Gunawan.
  • Born To Be Genius karya Adi W. Gunawan.

Suka dengan tulisan Syamsul Alam? Silahkan Langganan via E-mail biar nggak ketinggalan!

Mulai sekarang, AlamPintar akan update tiap EMPAT HARI sekali. Jika Anda terlalu sibuk untuk mampir, setidaknya pastikan untuk SELALU BACA artikel keren kami via email. Klik di sini untuk Langganan via E-mail!

Anda diperkenankan MENYALIN tulisan di AlamPintar.org selama menyebutkan SUMBER dan mencantumkan LINK menuju blog ini. Kerugian yang disebabkan karena anda secara salah mengikuti apa yang saya tulis di sini di luar tanggung jawab saya sebagai penulis.